Bersifatlah Seperti Bumi

Empat sifat bumi yakni : sabar, jujur, dermawan, dan rahasia.

Kelahiran Anak Pertama

Kisah tentang kelahiran anak pertamaku, yakni Syakira yang lahir tepat di tanggal 17 Agustus 2014.

Perjuangan Seorang Ibu

Kisah tentang perjuangan dan pengorbanan seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 28 Mei 2015

Kelahiran Anak Pertama

Hari itu Jum'at tanggal 15 Agustus 2014 aku pulang malam sekitar jam 8 malam dari kantor. Aku lihat istriku terlihat modar-mandir di dalam kamar menahan sakit perut. Sepertinya akan segera melahirkan. Karena takut terjadi apa-apa, akhirnya aku sampaikan juga sama papa tentang hal ini. Mendengar hal ini, mereka segera mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa ke rumah sakit untuk menghadapi proses persalinan.

Pukul 23.30 Wita kami berangkat menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aloei Saboe Kota Gorontalo menggunakan mobil salah satu keluarga istriku. kami tiba di rumah sakit pada pukul 00.15 Wita, tepatnya sudah hari Sabtu tanggal 16 Agustus 2014.

Malam itu istriku langsung diperiksa oleh suster jaga yang piket malam itu. Suster jaga mengatakan bahwa istriku kemungkinan besar belum akan melahirkan malam ini, karena masih pembukaan 3 (istilah dalam kedokteran). Uniknya dimalam itu istriku seperti tidak merasakan apa-apa. Saat kami dalam keadaan khawatir, istriku malah jalan kesana kemari sibuk mencari nyamuk..:)

Pada malam itu juga ada salah satu ibu yang sudah berada di ruang persalinan tengah ditangani oleh beberapa suster jaga. Aku sudah tidak ingat lagi kejadian itu terjadi pada pukul berapa. Anak yang dilahirkan oleh ibu tersebut meninggal dunia saat itu juga. Ini disebabkan oleh posisi bayi saat dilahirkan adalah kaki terlebih dahulu, sehingga ketika sudah di bagian leher, sang ibu berhenti mengejan yang menyebabkan leher sang bayi terjepit lama. Suster jaga yang menanganinya pada malam itu langsung mengambil tindakan menambah/memperlebar jalan lahir kemudian mengeluarkan sang bayi. Meski mereka mencoba menyelamatkan bayi tersebut, namun Allah menghendaki lain dengan memanggil sang bayi tersebut sebelum sempat menikmati dunia ini. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un...

Keesokan paginya kami pindah ke ruangan di Gedung G2 karena istriku diprediksikan belum akan melahirkan pada hari itu. Sore harinya kami mendengar kabar baik bahwa istri kakak sepupuku telah selamat melahirkan seorang bayi perempuan di Rumah Sakit Siti Hadidjah Kota Gorontalo.

Malam harinya kami benar-benar dibuat tidak bisa beristrahat. Istriku tidak henti-hentinya bolak-balik kamar kecil untuk kencing. Hanya berselang + 3 menitan, buang air kecil lagi dan harus ditemani hingga di dalam kamar kecil. Kejadian ini berlangsung hingga pagi hari, sehingga kami dibuat kurang istrahat.

Keesokan paginya hari Minggu tanggal 17 Agustus 2014, istriku dipindahkan ke gedung persalinan. Sekitar pukul 11 siang Walikota Gorontalo Bpk. Marten Taha dan Wakil Walikota Gorontalo Bpk. dr. Budi Doku bersama istri dan pejabat Pemerintah Kota Gorontalo lainnya data mengunjungi pasien di Rumah Sakit selesai melaksanakan Upacara 17 Agustus. Istriku mendapatkan sebuah hadiah dari Bpk. Walikota Gorontalo berupa pakaian bayi.

Sampai dengan jam 12 siang, istriku masih saja tak henti-hentinya bolak-balik kamar kecil. Suster menyuntikkan obat perangsang untuk merangsang persalinan. Sakit yang dirasakan oleh istriku perlahan-lahan mulai tak bisa ditahannya. Dia berusaha mengejan, namun bayinya tak kunjung keluar.

Menjelang adzan Maghrib, istriku dipindahkan ke ruang persalinan. Namun bayinya masih belum keluar juga. Aku makin kasihan melihat kondisi istriku yang begitu tersiksa dalam keadaan seperti itu. Ingin rasanya aku mengambil sebagian dari rasa sakit yang dideritanya itu, andai rasa sakit itu bisa dibagi. Tak tahan melihat kondisinya aku beranjak dari ruang persalinan. Air mataku tumpah dan tak bisa lagi kutahan. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa kepada Allah agar istri dan anakku diberikan keselamatan.

Tepat pukul 19.05 (5 menit sebelum adzan Isya dikumandangkan) barulah anak pertama kami lahir dengan selamat. Berat lahirnya 3,4 Kg dengan panjang 52 cm. Malam itu kami begitu senang dengan kelahiran putri pertama kami.




Rabu, 27 Mei 2015

Perjuangan Seorang Ibu

Seorang ibu adalah pahlawan bagi kita. Dia mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk menghadirkan kita di dunia ini. 9 bulan mengandung kita tanpa merasa berat menanggung beban dalam perutnya. Berjuang melahirkan kita melawan rasa sakit yang perih tiada tanding, meski nyawa taruhannya.

Ketika kita lahir, dia merawat kita dengan penuh perhatian. Istirahatnya sering terganggu oleh tangisan kita di tengah malam. Tangannya selalu sigap menahan tubuh kita yang terjatuh kala kita belajar berjalan. Dia selalu mengantar kita ke sekolah. Menyiapkan sarapan untuk kita dan ayah. Hampir sepanjang hari dari pagi hingga malam tak ada waktu baginya untuk istrahat. Kala kita menginjak masa remaja, dia tetap selalu bersama kita. Melambaikan tangannya saat mengantar kita pergi sekolah, sambil tak lupa berpesan agar kita berhati-hati di jalan. Kala kita pulang sekolah, dia menyambut kita dengan senyuman serta pelukan yang penuh kasih sayang.
Kala kita menginjak masa remaja, ibu selalu tak henti-hentinya berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar kita selalu diberikan kesehatan lahir bathin. Tidak satupun dalam doanya yang tidak menginginkan kebaikan untuk kita.
Kala kita telah membina rumah tangga yang baru, ibu selalu ada buat kita dengan segala nasihat-nasihat baiknya.
Ibu selalu ada bagi kita, baik dikala senang maupun sedih. Dia menjadi tempat mencurahkan segala isi hati, meski terkadang apa yang ada dalam hatinya tak tahu harus ia curahkan kepada siapa.

Sekarang, coba lihatlah diri kita...
Apa yang telah kita lakukan untuk ibu?
Apa balasan yang kita berikan kepadanya atas segala jerih payahnya merawat kita sejak masih dalam kandungan hingga kita yang sekarang?
Apakah rumah mewah? Perhiasan yang tak terhitung nilainya? Uang yang tak terhitung jumlahnya? Atau tiket pesawat untuk liburan ke luar negeri?
Pernahkah kita bertanya kepadanya, apakah semua yang kita berikan itu sudah mampu membahagiakannya?
Apakah semua itu sudah mampu membayar segala jerih payahnya melahirkan dan merawat kita?
Setiap ibu selalu mengharapkan yang terbaik bagi anaknya. Manjadi orang yang sukses dan terpandang. Namun semua itu menjadi sia-sia jika doanya yang paling utama sering disampaikan kepada Allah dalam shalatnya tidak menjadi kenyataan. Yang paling diharapkan oleh ibu kita hanyalah kita menjadi anaknya yang shaleh/shalehah, selalu bersyukur dan mengingat-Nya dikala susah atau senang. Selalu melewatkan malam dengan sujud yang panjang, melantunkan ayat-ayat suci dan dzikir. Yang kelak menjadi amal jariah bagi ibu kita menuju Syurga Allah yang abadi.


“Berbuat baiklah kepada ibumu selagi ia masih hidup. Jika ia telah tiada, jangan pernah lewatkan shalatmu dengan doa yang baik untuk ibumu... “

Selasa, 26 Mei 2015

Harapan Orang Tua (Renungan)

Nikmatilah hidupmu sekehendak jiwamu
Pergilah kemana saja engkau mau
Tertawalah sebebas hatimu
Tapi ingatlah...
Dua sosok manusia dalam hidupmu, ayah dan ibumu

Ayahmu selalu bermimpi
Kelak engkau akan menjadi pelanjut amal shalehnya
Jika ia telah tiada
Bundamu yang selalu berangan
Kedua tanganmu menjadi tangan yang selalu tengadah
Mendoakan perjalannya di sana

(Cukupkah amalmu menjadi jariah bagi mereka..??)

Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan
Habiskan saja masa mudamu untuk kesenangan
Tapi ingatlah...
Ada ayah dan ibumu yang berurai air mata
Meminta tak putus-putusnya kepada sang penciptamu
Agar hidupmu adalah episode kesholehan demi kesholehan

Jika kini ayah bundamu telah tiada
Menurutmu, apa yang mereka impikan tentangmu di dunia ini?
Jadi hartawan tanpa tanding?
Jadi pejabat level tertinggi?
Mungkin saja...

Tapi mereka pasti lebih berharap engkau menjadi
Hamba Allah yang Shaleh/Shalehah
Hamba yang melewati malam dalam sujud-sujud panjang
Hamba yang melewati hari dalam kebajikan demi kebajikan
Hamba yang selalu takut kepada Allah

Kini, impian mereka hanya satu...
Engkau menjadi jalan bagi mereka
Untuk menjejak surga Allah yang abadi

(Cukupkah amalmu menjadi jariah bagi mereka?)

Anakku, jika kelak kalian membaca nasehat kami ini...renungkan dan amalkanlah...

Rabu, 20 Mei 2015

Harapan Orang Tua untuk Syakira

Tanggal 17 Agustus Tahun 2014 Pukul 19.05 Wita di Rumah Sakit Umum Daerah Aloei Saboe, Istriku Yanti Rivai melahirkan seorang putri yang cantik, wajahnya mirip ibunya. Kami memberinya nama "Syakira Faiha Aftani" yang berarti Syakira = Wanita yang selalu bersyukur, Faiha = Memiliki banyak kelebihan, Aftani = Ingatan yang mengagumkan, atau Wanita yang selalu bersyukur kepada Allah, memiliki banyak kelebihan dan ingatan yang mengagumkan. Nama anak adalah do'a orang tua, nama yang kami berikan untuk anak kami adalah doa serta harapan kami.
Adapun harapan kami dengan memberikan nama tersebut adalah :
  1. Putri kami menjadi anak terbaik di generasinya dan selalu ingat dan bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat dan karunia yang telah Dia berikan. Putri kami tidak menjadi anak yang sombong atas segala kelebihan yang dia miliki, karena sesungguhnya kelebihan yang ia miliki adalah pemberian Allah SWT yang tidak bersifat kekal/abadi.
  2. Putri kami memiliki banyak kelebihan sehingga menjadi anak terbaik di generasinya serta mandiri.
  3. Ingatan mengagumkan yang ia miliki dapat ia pergunakan untuk memelihara Kitab Allah (Al-Qur'anul Karim) dengan menghafal serta memahaminya dengan baik.
Harapan kami ini semoga menjadi kenyataan, insya Allah.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com